Lampung Blogging: Ini Nih, Karakter Mertua Yang Harus Kita Ketahui

Informasi Terbaru

Tuesday, 3 November 2015

Ini Nih, Karakter Mertua Yang Harus Kita Ketahui



Sekedar Tahu _ Kata orang tua, jangan pernah sekali-kali berpikir tentang perceraian. Bahkan, pada saat terjadi konflik besar  sekali pun, sebab perceraian bukanlah solusi terbaik. Jadi, jagalah pernikahan Anda seolah-olah tengah mempertahankan hidup Anda.  Memang sih, dalam menjalani sebuah perkawinan tak selalu seindah dengan apa yang menjadi harapan pada masa-masa pacaran. Ada kalanya juga dihiasi oleh konflik.  Lantas, Apa saja sih musuh-musuh sebuah perkawinan?   Sangat banyak !!  Namun kali ini Lampung Blogging hanya ingin mengulas satu penyebab yang kerap terjadi di kehidupan kita,  mengapa perkawinan tak seindah seperti bayangan awal.

Intervensi mertua
Rasanya terlalu tradisional dan kolot, ya.  Namun, fakta menunjukkan banyak pasangan yang beradu mulut karena merasa campur tangan Sang Mertua terlalu jauh masuk ke dalam wilayah rumah tangga mereka.  Di sisi lain, pasangan merasa pasangannya terlalu sensitif dan menilai buruk orang tuanya. Banyak orang tua yang masih sulit memberikan otonomi bagi anak-anaknya yang sudah menikah. Apalagi jika Sang Anak merupakan anak kesayangan, anak bungsu atau anak tunggal. Jadi,  jika salah satu suami atau istri belum sepenuhnya terbebaskan dari orang tua, maka yang terbaik adalah tidak tinggal dekat atau bersama mereka.

Konon, hubungan mertua-menantu memang sering diwarnai konflik. Nah, bagaimana caranya agar kita terhindar dari konflik tersebut?, Sebagaimana di kutip dari situs tabloid.nova,com, berikut adalah karakter mertua. Yuk, kita coba Kenali dulu karakter mertua kita.

1.TIPE MERTUA PENUH PERHATIAN 
Mertua dengan karakter ini biasanya amat penuh perhatian dan kelewat peduli pada cucu. Bila hidup tak serumah, hampir setiap saat ia menelepon sekadar menanyakan apakah cucunya sudah makan, lauknya apa, tidur jam berapa, dan sebagainya. Bila kita sedikit keras pada anak, justru kita diomeli dan dinasihati panjang lebar. Selama tak "mengganggu", tentu curahan perhatian dari nenek boleh-boleh saja karena malah akan memperkaya anak secara emosional.

Tapi jika limpahan kasih sayangnya berlebihan atau malah menyesatkan, kita perlu waspada. Soalnya, pendidikan anak usia balita mutlak menjadi tanggung jawab orang tua. Lagi pula, anak akan bingung bila ada dua "peraturan" berbeda atau bahkan bertentangan. Ia butuh kejelasan, mana yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tidak.

Psikolog Ieda Poernomo Sigit Sidi menyarankan agar kita mengkaji nasehatnya sekaligus introspeksi diri. Bisa jadi kita memang salah atau kelewat keras pada anak. Bukankah kita masih dalam proses belajar menjadi orang tua?

"Bila yakin prinsip Anda benar, jangan ragu untuk membicarakannya. Tunjukkan sikap santun dan hindari kesan menggurui. Bila perlu mintalah bantuan suami." Katakan, misalnya, "Ibu, maaf, bukan maksud kami bersikap keras pada anak. Tapi kami pikir, dia pun harus belajar disiplin agar tak tumbuh jadi anak manja. Kami khawatir dia nanti susah mandiri." Pokoknya, Anda harus berpikir jernih dan jauhkan prasangka.

2. TIPE MERTUA SOK KUASA
Tak sedikit, lo, mertua yang ngotot berusaha masuk dalam rumah tangga anaknya dengan berbagai cara. Maunya selalu ikut campur dalam segala hal; dari soal menu yang harus tersaji, pengasuhan anak, sampai mengurus pasangan. Bahkan, baju apa yang pantas dan tidak untuk kita kenakan pun dicampurinya juga. Nyebelin, kan? "Modal" untuk terhindar dari pengaruh buruknya adalah punya rumah sendiri.

"Entah cicilan, kontrak atau apapun namanya, karena hanya itulah satu-satunya cara agar kita bisa mengelola keluarga sendiri.  Ingat, rumah tangga milik Anda berdua. Anda berdualah yang menentukan akan diapakan dan dibawa ke mana.

Dengan pindah rumah, selain dapat mengeliminir pengaruh kurang baik dari mertua dan keluarga besar, kita pun jadi punya banyak kesempatan berduaan dengan pasangan untuk membicarakan banyak hal mengenai keluarga.
Tentu Anda harus pandai-pandai memilih kata karena mertua tetaplah orang tua pasangan Anda. Bukankah bila orang tua anda dikritik pasangan, Anda juga tak suka?"

3. TIPE MERTUA "TUKANG" NGERUMPI
Kita perlu ekstra hati-hati dan wajib menjaga jarak dengannya. Bila tidak, kita mesti tahan berjam-jam mendengarkannya mengoceh tentang segala hal, terutama kejelekan anak, menantu, atau cucunya yang lain, hingga terkesan seperti mengadu domba. Kita pun harus mampu menahan diri untuk tak menimpali ocehannya.
Apalagi sampai ikut-ikutan menjelek-jelekkan mereka, misalnya, "Oh, iya, Bu, si Anu memang begitu orangnya. Saya juga enggak suka sama dia." Tentunya kita tak ingin ikut-ikutan jadi pribadi bermasalah dan mendatangkan masalah buat orang lain, kan? Makanya, kenali dengan siapa kita menikah, kenali pula siapa orang tuanya.

4. TIPE MERTUA RAJIN MENGELUH
Boleh jadi si mertua memang "hobi"nya mengeluh dan terus mengeluh. Pokoknya, tiada hari tanpa keluhan; yang sakitlah, nggak punya duitlah, suami bikin jengkel, menantu pelit, cucu bandel, pembantu bebal, dan sebagainya. Melelahkan sekali bukan bila harus meladeni mertua begini? Tak menanggapi pun bisa-bisa dianggap menantu tak tahu diri.

Cara penanganan. Cukup,  Kenali kepribadian dan kebiasaan mertua. Dari situ kita bisa mengenali pola komunikasi yang cocok bila berhadapan dengannya, sehingga kita tahu kapan dan bagaimana harus menanggapi keluhannya. "Anda harus memposisikan diri di tempat netral dan obyektif."

5. TIPE MERTUA MATA DUITAN
Biasanya ia suka berkomentar, "Mantuku yang satu itu baik banget." Lo, kenapa begitu? "Dia ngerti, deh. Sebelum diminta, pasti udah ngasih." Lalu, apakah yang tak pernah memberi atau cuma mampu memberi sedikit bisa dikategorikan menantu nggak baik? Belum tentu, kan? Mertua model ini, mengganggap anak sebagai investasi sehingga selalu menuntut imbalan dan jasa.  Sampai anaknya mau kawin pun, ia tetap akan berhitung njlimet apa saja untung ruginya, "Aku akan tetap dapat jatah enggak, ya, kalau anakku beristrikan dia?" Ia mengukur baik-tidaknya menantu dari seberapa sering dan besar "upeti" yang diberikan kepadanya.

Berbeda dengan ortu yang menganggap anak sebagai amanah, justru menolak pemberian anak sekaligus menasehati untuk menabung. Tapi bukan besarnya gaji suami atau istri yang perlu mereka ketahui, lo, karena itu, sih, rahasia dapur Anda berdua. "Jangan pernah memberi kesempatan siapapun masuk ke bilik yang paling rahasia ini."

Kerap kali, mertua model ini juga suka membanding-bandingkan antara anak/menantu yang satu dengan anak/menantu lain. Ingatkan beliau, peruntungan dan rejeki setiap orang tak akan pernah sama. Secara halus atau bergurau, ingatkan pula agar tak membanding-bandingkan siapa pun dengan tolok ukur benda-benda duniawi.

6. TIPE MERTUA PILIH KASIH
Jika pasangan kita merupakan anak kesayangan, hampir bisa dipastikan, kita pun ikut "ketiban" kasih sayang mertua. Kita akan diperlakukan istimewa sebagaimana mertua memperlakukan anak yang menjadi pasangan kita. Tapi kalau pasangan kita bukan anak "emas, bersiap-siaplah untuk juga "dimantutirikan".

"Tak perlu sakit hati atau tersisih. Jika kedatangan Anda cuma jadi 'pengganjal' pintu depan, ya, sudahlah, tak perlu berakrab-akrab di dalam. Tak usah Anda permasalahkan bila memang demikian keinginan mertua." Jangan lupa, amati di mana posisi kita di mata mertua.
"Jadi, kalau kehadiran Anda dianggap mengganggu, Anda pun boleh memilih tak pergi ke rumah mertua daripada datang hanya untuk menambah sakit hati." Tapi jangan pernah melarang pasangan untuk mengunjungi ortunya. Anda harus memberi kesempatan pada pasangan dan ortunya untuk tetap menjalin hubungan ortu-anak, karena hubungan semacam ini tak bisa tergantikan dan bersifat abadi.
Adakalanya mertua model ini juga mata duitan. Sekalipun kita bukan menantu kesayangannya, tapi kalau kita kerap memberinya uang, mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang ia suka, menghadiahinya dengan barang-barang mewah, dan sebagainya yang berkaitan dengan uang, biasanya ia akan baik sekali sama kita. Tapi sekali saja kita tak melimpahinya dengan uang, ia kembali pada sikapnya semula, "memantutirikan" kita.

Tapi ada juga, lo, yang nggak mempan "disogok". Bila demikian, tak sedikit menantu yang akhirnya selalu "bernyanyi", "Huh, kalau dari saya berapapun banyaknya nggak pernah akan ada cerita. Tapi kalau dari mantu kesayangannya, sedikit saja dikasih, ceritanya sampai ke mana-mana, diomongin nggak habis-habis."

Nah, bila Anda termasuk yang demikian, "Ngasihnya ikhlas enggak? Kalau memang iklas, ya, sudah, jangan dipertanyakan atau diungkit-ungkit." Kita harus berpijak pada pemikiran dasar untuk tak membanding-bandingkan atau berkompetisi.

7. TIPE MERTUA ACUH TAK ACUH
Selagi kita dibelit masalah,jangankan memberi nasehat atau jalan keluar, mertua model begini cuma berkomentar pendek, "Yaa... begitulah orang berumah tangga. Pinter-pinternya kamu, deh, gimana mengatasinya." Ia pun jarang telepon apalagi datang berkunjung. Jikapun kita yang menelepon atau berkunjung ke rumahnya, tanggapannya biasa-biasa saja. Pokoknya, komunikasi serasa enggak jalan karena cuma searah hingga kita menilainya sebagai sosok yang tak peduli.

Tapi sebetulnya malah enak punya mertua cuek seperti ini. Ia merasa tugasnya mengurus anak sudah selesai. Sekarang saya bersibuk diri dengan dunia saya, teman-teman saya, dan hobi saya. "Anda sama sekali tak boleh berujar, 'Si nenek udah tua tapi masih jalan-jalan, senang-senang sendiri, dititipi cucu enggak mau.' Wong, itu hak dia, kok!" Jadi, tandasnya, kita harus menjunjung tinggi prinsip tak saling mengganggu. "Singkirkan rasa tak enak hati. Anda pun harus menghargai privacy-nya. Biarkan ia menikmati hidupnya dengan dunianya sendiri."

8. TIPE MERTUA BERMULUT MANIS
Di depan kita, ia rajin obral pujian dan kata-kata manis. Tapi begitu di belakang kita, segalanya berubah total. Seperti kata pepatah, lain di bibir lain di hati, begitulah mertua model ini, munafik!  Sebagai anak, kita dan pasangan kita, memang, wajib mengingatkan beliau. Tentu dengan cara-cara santun karena orang tua tetap manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan.

"Tak perlu kecut menghadapinya. Kaji kembali opini yang membuat orang terjerat dalam ketakutan akan durhaka terhadap ortunya. " Karena bila kita tak menegur atau mengingatkannya, kita justru membiarkan si ortu terperosok lebih jauh ke dalam hal-hal yang tak benar. Sekaligus membiarkannya menjadi api dalam sekam bagi hubungan sesama menantu dan ipar.

9. TIPE MERTUA NEMPEL TERUS SAMA ANAK
Kasus seperti ini biasanya erat berkaitan dengan status anak; entah tunggal, bungsu atau anak kesayangan. Lantaran tak rela berpisah dengan anak istimewanya itulah, kita sebagai menantu pun ikut-ikutan "disandera" untuk tinggal di rumahnya.

Tapi tekad memiliki rumah sendiri harus terus dibicarakan dengan pasangan. Perlu dicari cara tak mencolok yang dapat mengundang prasangka dan memojokkan Anda semisal, "Tuh, kan, kamu juga yang 'ngeracunin' anakku supaya pindah dari sini." Jikapun harus tetap serumah, minta ijin agar ada pemisahan dapur.

10. TIPE MERTUA SOK TAHU
Apakah Anda sering ditegur kala berbuat atau melakukan sesuatu untuk pasangan anda? Misalnya, "Suamimu, tuh, nggak suka sayur asem, tapi kenapa kamu malah masak sayur asem?" Kali lain, "Kamu, kok, beli kaos model begini? Dari dulu suamimu enggak suka pakai kaos yang banyak gambarnya. Gimana, sih, kamu ini?"
Pendeknya, kita sering kena tegur mertua karena dianggap nggak ngerti selera suami atau sebaliknya, seolah-olah cuma beliaulah yang tahu persis anaknya. Biasanya, sikap mertua yang "sok tahu" ini disebabkan ia merasa yakin kenal betul siapa dan apa saja mengenai anaknya, karena sudah sekian lama anaknya berada dalam asuhannya.

Memang, Perasaan memiliki secara berlebihan pada diri mertua terhadap anaknya merupakan salah satu pemicu utama konflik mertua-menantu, dan sayangnya, orang tua sering lupa bahwa tugas orang tua cuma mendidik, membesarkan dan mengantarkan sekaligus melepaskan si anak memasuki rumah tangganya sendiri. Tentu saja, sangat tak adil bila harus menilai, membanding-bandingkan apalagi menghakimi menantu dengan kacamata mertua.

Pendek kata, yang satu sudah ahli, yang lain baru belajar. Jelas tak mungkin diperbandingkan, dong!" Seringkali mertua model ini juga bersikap sok tahu terhadap hal-hal lainnya, termasuk pengasuhan anak. Menantu dianggapnya sosok yang tak tahu dan tak bisa apa-apa. Semuanya serba salah di mata mertua. Konyolnya, mertua model ini cuma bisa menilai dan melecehkan tanpa pernah memberi kesempatan pada menantunya untuk belajar.

Padahal, menantu betul-betul butuh dukungan dan kesempatan untuk belajar membina rasa percaya diri menjadi seorang yang madiri.  Dan disini,  peran si anak mertua yang merupakan pasangan kita sebagai jembatan sekaligus kunci sangat menentukan pola penyelesaikan konflik mertua-menantu.

11. TIPE MERTUA PENUH PENGERTIAN
Mertua begini, harus dianggap sebagai karunia yang patut disyukuri.  Pendeknya, jika ia tahu kita butuh sesuatu, tahu-tahu kebutuhan itu dipenuhi. Asyik, kan? Kita tak perlu risih atau berhutang budi sepanjang segala pemberiannya tulus sebagai ungkapan sayang terhadap keluarga anaknya. "Itulah berkah hidup bersaudara."

Jadi, sekalipun pemberiannya kurang berkenan di hati lantaran perbedaan selera, "Andalah yang mesti pandai-pandai menenggang rasa."  Yang penting, jangan biarkan diri kita terlena oleh segala kebaikannya. Jangan sampai kita terjebak memanjakan keluarga dengan memanfaatkan kebaikannya.

Sebagai Tempat Penitipan Anak, misalnya. Mertua bukan babysitter buat si kecil Anda lo. "Ingat, anak, keluarga dan hidup Anda merupakan tanggung jawab Anda, bukan mertua Anda!"  
Demikian Info Lampung Blogging. Semoga brmanfaat. Salam Blogging !!


No comments:

Post a Comment

Hindari Komentar yang mengandung Spam, P*rn* dan SARA.