![]() |
Sekedar Tahu _
Kata orang tua, jangan pernah sekali-kali berpikir tentang perceraian. Bahkan,
pada saat terjadi konflik besar sekali
pun, sebab perceraian bukanlah solusi terbaik. Jadi, jagalah pernikahan Anda
seolah-olah tengah mempertahankan hidup Anda. Memang sih, dalam menjalani sebuah perkawinan
tak selalu seindah dengan apa yang menjadi harapan pada masa-masa pacaran. Ada
kalanya juga dihiasi oleh konflik. Lantas,
Apa saja sih musuh-musuh sebuah perkawinan?
Sangat banyak !! Namun kali ini Lampung Blogging hanya ingin
mengulas satu penyebab yang kerap terjadi di kehidupan kita, mengapa perkawinan tak seindah seperti
bayangan awal.
|
Intervensi mertua
Rasanya terlalu tradisional dan kolot, ya. Namun, fakta menunjukkan banyak pasangan yang
beradu mulut karena merasa campur tangan Sang Mertua terlalu jauh masuk ke
dalam wilayah rumah tangga mereka. Di
sisi lain, pasangan merasa pasangannya terlalu sensitif dan menilai buruk orang
tuanya. Banyak orang tua yang masih sulit memberikan otonomi bagi anak-anaknya
yang sudah menikah. Apalagi jika Sang Anak merupakan anak kesayangan, anak
bungsu atau anak tunggal. Jadi, jika
salah satu suami atau istri belum sepenuhnya terbebaskan dari orang tua, maka
yang terbaik adalah tidak tinggal dekat atau bersama mereka.
Konon, hubungan mertua-menantu memang sering
diwarnai konflik. Nah, bagaimana caranya agar kita terhindar dari konflik
tersebut?, Sebagaimana di kutip dari situs tabloid.nova,com, berikut adalah
karakter mertua. Yuk, kita coba Kenali dulu karakter mertua kita.
1.TIPE
MERTUA PENUH PERHATIAN
Mertua dengan
karakter ini biasanya amat penuh perhatian dan kelewat peduli pada cucu. Bila
hidup tak serumah, hampir setiap saat ia menelepon sekadar menanyakan apakah
cucunya sudah makan, lauknya apa, tidur jam berapa, dan sebagainya. Bila kita
sedikit keras pada anak, justru kita diomeli dan dinasihati panjang lebar.
Selama tak "mengganggu", tentu curahan perhatian dari nenek
boleh-boleh saja karena malah akan memperkaya anak secara emosional.
Tapi jika limpahan kasih sayangnya berlebihan atau
malah menyesatkan, kita perlu waspada. Soalnya, pendidikan anak usia balita
mutlak menjadi tanggung jawab orang tua. Lagi pula, anak akan bingung bila ada
dua "peraturan" berbeda atau bahkan bertentangan. Ia butuh kejelasan,
mana yang baik dan tidak, mana yang boleh dan tidak.
Psikolog Ieda
Poernomo Sigit Sidi menyarankan agar kita mengkaji nasehatnya sekaligus
introspeksi diri. Bisa jadi kita memang salah atau kelewat keras pada anak.
Bukankah kita masih dalam proses belajar menjadi orang tua?
"Bila yakin
prinsip Anda benar, jangan ragu untuk membicarakannya. Tunjukkan sikap santun
dan hindari kesan menggurui. Bila perlu mintalah bantuan suami." Katakan,
misalnya, "Ibu, maaf, bukan maksud kami bersikap keras pada anak. Tapi
kami pikir, dia pun harus belajar disiplin agar tak tumbuh jadi anak manja.
Kami khawatir dia nanti susah mandiri." Pokoknya, Anda harus berpikir
jernih dan jauhkan prasangka.
2. TIPE
MERTUA SOK KUASA
Tak sedikit, lo,
mertua yang ngotot berusaha masuk dalam rumah tangga anaknya dengan berbagai
cara. Maunya selalu ikut campur dalam segala hal; dari soal menu yang harus
tersaji, pengasuhan anak, sampai mengurus pasangan. Bahkan, baju apa yang
pantas dan tidak untuk kita kenakan pun dicampurinya juga. Nyebelin, kan?
"Modal" untuk terhindar dari pengaruh buruknya adalah punya rumah
sendiri.
"Entah cicilan,
kontrak atau apapun namanya, karena hanya itulah satu-satunya cara agar kita
bisa mengelola keluarga sendiri. Ingat,
rumah tangga milik Anda berdua. Anda berdualah yang menentukan akan diapakan
dan dibawa ke mana.
Dengan pindah rumah,
selain dapat mengeliminir pengaruh kurang baik dari mertua dan keluarga besar,
kita pun jadi punya banyak kesempatan berduaan dengan pasangan untuk
membicarakan banyak hal mengenai keluarga.
Tentu Anda harus
pandai-pandai memilih kata karena mertua tetaplah orang tua pasangan Anda.
Bukankah bila orang tua anda dikritik pasangan, Anda juga tak suka?"
3. TIPE MERTUA
"TUKANG" NGERUMPI
Kita perlu ekstra
hati-hati dan wajib menjaga jarak dengannya. Bila tidak, kita mesti tahan
berjam-jam mendengarkannya mengoceh tentang segala hal, terutama kejelekan
anak, menantu, atau cucunya yang lain, hingga terkesan seperti mengadu domba.
Kita pun harus mampu menahan diri untuk tak menimpali ocehannya.
Apalagi sampai
ikut-ikutan menjelek-jelekkan mereka, misalnya, "Oh, iya, Bu, si Anu
memang begitu orangnya. Saya juga enggak suka sama dia." Tentunya kita tak
ingin ikut-ikutan jadi pribadi bermasalah dan mendatangkan masalah buat orang
lain, kan? Makanya, kenali dengan siapa kita menikah, kenali pula siapa orang
tuanya.
4. TIPE MERTUA RAJIN MENGELUH
Boleh jadi si mertua
memang "hobi"nya mengeluh dan terus mengeluh. Pokoknya, tiada hari
tanpa keluhan; yang sakitlah, nggak punya duitlah, suami bikin jengkel, menantu
pelit, cucu bandel, pembantu bebal, dan sebagainya. Melelahkan sekali bukan
bila harus meladeni mertua begini? Tak menanggapi pun bisa-bisa dianggap
menantu tak tahu diri.
Cara penanganan.
Cukup, Kenali kepribadian dan kebiasaan mertua.
Dari situ kita bisa mengenali pola komunikasi yang cocok bila berhadapan
dengannya, sehingga kita tahu kapan dan bagaimana harus menanggapi keluhannya.
"Anda harus memposisikan diri di tempat netral dan obyektif."
5. TIPE MERTUA MATA DUITAN
Biasanya ia suka
berkomentar, "Mantuku yang satu itu baik banget." Lo, kenapa begitu?
"Dia ngerti, deh. Sebelum diminta, pasti udah ngasih." Lalu,
apakah yang tak pernah memberi atau cuma mampu memberi sedikit bisa
dikategorikan menantu nggak baik? Belum tentu, kan? Mertua model ini, mengganggap
anak sebagai investasi sehingga selalu menuntut imbalan dan jasa. Sampai anaknya mau kawin pun, ia tetap akan
berhitung njlimet apa saja untung ruginya, "Aku akan tetap dapat
jatah enggak, ya, kalau anakku beristrikan dia?" Ia mengukur baik-tidaknya
menantu dari seberapa sering dan besar "upeti" yang diberikan
kepadanya.
Berbeda dengan ortu yang menganggap anak sebagai
amanah, justru menolak pemberian anak sekaligus menasehati untuk menabung. Tapi
bukan besarnya gaji suami atau istri yang perlu mereka ketahui, lo, karena itu,
sih, rahasia dapur Anda berdua. "Jangan pernah memberi kesempatan siapapun
masuk ke bilik yang paling rahasia ini."
Kerap kali, mertua
model ini juga suka membanding-bandingkan antara anak/menantu yang satu dengan
anak/menantu lain. Ingatkan beliau, peruntungan dan rejeki setiap orang tak
akan pernah sama. Secara halus atau bergurau, ingatkan pula agar tak
membanding-bandingkan siapa pun dengan tolok ukur benda-benda duniawi.
6. TIPE MERTUA PILIH KASIH
Jika pasangan kita
merupakan anak kesayangan, hampir bisa dipastikan, kita pun ikut
"ketiban" kasih sayang mertua. Kita akan diperlakukan istimewa
sebagaimana mertua memperlakukan anak yang menjadi pasangan kita. Tapi kalau pasangan
kita bukan anak "emas, bersiap-siaplah untuk juga
"dimantutirikan".
"Tak perlu
sakit hati atau tersisih. Jika kedatangan Anda cuma jadi 'pengganjal' pintu
depan, ya, sudahlah, tak perlu berakrab-akrab di dalam. Tak usah Anda
permasalahkan bila memang demikian keinginan mertua." Jangan lupa, amati
di mana posisi kita di mata mertua.
"Jadi, kalau
kehadiran Anda dianggap mengganggu, Anda pun boleh memilih tak pergi ke rumah
mertua daripada datang hanya untuk menambah sakit hati." Tapi jangan
pernah melarang pasangan untuk mengunjungi ortunya. Anda harus memberi
kesempatan pada pasangan dan ortunya untuk tetap menjalin hubungan ortu-anak,
karena hubungan semacam ini tak bisa tergantikan dan bersifat abadi.
Adakalanya mertua
model ini juga mata duitan. Sekalipun kita bukan menantu kesayangannya, tapi
kalau kita kerap memberinya uang, mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat yang
ia suka, menghadiahinya dengan barang-barang mewah, dan sebagainya yang
berkaitan dengan uang, biasanya ia akan baik sekali sama kita. Tapi sekali saja
kita tak melimpahinya dengan uang, ia kembali pada sikapnya semula,
"memantutirikan" kita.
Tapi ada juga, lo,
yang nggak mempan "disogok". Bila demikian, tak sedikit menantu yang
akhirnya selalu "bernyanyi", "Huh, kalau dari saya berapapun
banyaknya nggak pernah akan ada cerita. Tapi kalau dari mantu
kesayangannya, sedikit saja dikasih, ceritanya sampai ke mana-mana, diomongin
nggak habis-habis."
Nah, bila Anda
termasuk yang demikian, "Ngasihnya ikhlas enggak? Kalau memang iklas,
ya, sudah, jangan dipertanyakan atau diungkit-ungkit." Kita harus berpijak
pada pemikiran dasar untuk tak membanding-bandingkan atau berkompetisi.
7. TIPE MERTUA ACUH TAK ACUH
Selagi kita dibelit
masalah,jangankan memberi nasehat atau jalan keluar, mertua model begini cuma
berkomentar pendek, "Yaa... begitulah orang berumah tangga.
Pinter-pinternya kamu, deh, gimana mengatasinya." Ia pun jarang
telepon apalagi datang berkunjung. Jikapun kita yang menelepon atau berkunjung
ke rumahnya, tanggapannya biasa-biasa saja. Pokoknya, komunikasi serasa enggak
jalan karena cuma searah hingga kita menilainya sebagai sosok yang tak peduli.
Tapi sebetulnya malah enak punya mertua cuek seperti
ini. Ia merasa tugasnya mengurus anak sudah selesai. Sekarang saya bersibuk
diri dengan dunia saya, teman-teman saya, dan hobi saya. "Anda sama sekali
tak boleh berujar, 'Si nenek udah tua tapi masih jalan-jalan, senang-senang
sendiri, dititipi cucu enggak mau.' Wong, itu hak dia, kok!" Jadi,
tandasnya, kita harus menjunjung tinggi prinsip tak saling mengganggu. "Singkirkan
rasa tak enak hati. Anda pun harus menghargai privacy-nya. Biarkan ia menikmati
hidupnya dengan dunianya sendiri."
8. TIPE MERTUA BERMULUT MANIS
Di depan kita, ia
rajin obral pujian dan kata-kata manis. Tapi begitu di belakang kita, segalanya
berubah total. Seperti kata pepatah, lain di bibir lain di hati, begitulah
mertua model ini, munafik! Sebagai anak,
kita dan pasangan kita, memang, wajib mengingatkan beliau. Tentu dengan
cara-cara santun karena orang tua tetap manusia biasa yang memiliki banyak
kekurangan.
"Tak perlu
kecut menghadapinya. Kaji kembali opini yang membuat orang terjerat dalam ketakutan
akan durhaka terhadap ortunya. " Karena bila kita tak menegur atau
mengingatkannya, kita justru membiarkan si ortu terperosok lebih jauh ke dalam
hal-hal yang tak benar. Sekaligus membiarkannya menjadi api dalam sekam bagi
hubungan sesama menantu dan ipar.
9. TIPE MERTUA NEMPEL TERUS SAMA ANAK
Kasus seperti ini
biasanya erat berkaitan dengan status anak; entah tunggal, bungsu atau anak
kesayangan. Lantaran tak rela berpisah dengan anak istimewanya itulah, kita
sebagai menantu pun ikut-ikutan "disandera" untuk tinggal di
rumahnya.
Tapi tekad memiliki rumah sendiri harus terus
dibicarakan dengan pasangan. Perlu dicari cara tak mencolok yang dapat
mengundang prasangka dan memojokkan Anda semisal, "Tuh, kan, kamu juga
yang 'ngeracunin' anakku supaya pindah dari sini." Jikapun harus
tetap serumah, minta ijin agar ada pemisahan dapur.
10. TIPE MERTUA SOK TAHU
Apakah Anda sering
ditegur kala berbuat atau melakukan sesuatu untuk pasangan anda? Misalnya,
"Suamimu, tuh, nggak suka sayur asem, tapi kenapa kamu malah masak
sayur asem?" Kali lain, "Kamu, kok, beli kaos model begini? Dari dulu
suamimu enggak suka pakai kaos yang banyak gambarnya. Gimana, sih, kamu ini?"
Pendeknya, kita
sering kena tegur mertua karena dianggap nggak ngerti selera suami atau
sebaliknya, seolah-olah cuma beliaulah yang tahu persis anaknya. Biasanya, sikap
mertua yang "sok tahu" ini disebabkan ia merasa yakin kenal betul
siapa dan apa saja mengenai anaknya, karena sudah sekian lama anaknya berada
dalam asuhannya.
Memang, Perasaan
memiliki secara berlebihan pada diri mertua terhadap anaknya merupakan salah
satu pemicu utama konflik mertua-menantu, dan sayangnya, orang tua sering lupa
bahwa tugas orang tua cuma mendidik, membesarkan dan mengantarkan sekaligus
melepaskan si anak memasuki rumah tangganya sendiri. Tentu saja, sangat tak
adil bila harus menilai, membanding-bandingkan apalagi menghakimi menantu
dengan kacamata mertua.
Pendek kata, yang satu sudah ahli, yang lain baru
belajar. Jelas tak mungkin diperbandingkan, dong!" Seringkali mertua model
ini juga bersikap sok tahu terhadap hal-hal lainnya, termasuk pengasuhan anak.
Menantu dianggapnya sosok yang tak tahu dan tak bisa apa-apa. Semuanya serba
salah di mata mertua. Konyolnya, mertua model ini cuma bisa menilai dan
melecehkan tanpa pernah memberi kesempatan pada menantunya untuk belajar.
Padahal, menantu
betul-betul butuh dukungan dan kesempatan untuk belajar membina rasa percaya
diri menjadi seorang yang madiri. Dan disini, peran si anak mertua yang merupakan pasangan
kita sebagai jembatan sekaligus kunci sangat menentukan pola penyelesaikan
konflik mertua-menantu.
11. TIPE MERTUA PENUH PENGERTIAN
Mertua begini, harus
dianggap sebagai karunia yang patut disyukuri. Pendeknya, jika ia tahu kita butuh sesuatu,
tahu-tahu kebutuhan itu dipenuhi. Asyik, kan? Kita tak perlu risih atau
berhutang budi sepanjang segala pemberiannya tulus sebagai ungkapan sayang
terhadap keluarga anaknya. "Itulah berkah hidup bersaudara."
Jadi, sekalipun pemberiannya
kurang berkenan di hati lantaran perbedaan selera, "Andalah yang mesti
pandai-pandai menenggang rasa." Yang
penting, jangan biarkan diri kita terlena oleh segala kebaikannya. Jangan
sampai kita terjebak memanjakan keluarga dengan memanfaatkan kebaikannya.
Sebagai Tempat Penitipan Anak, misalnya. Mertua
bukan babysitter buat si kecil Anda lo. "Ingat, anak, keluarga dan hidup
Anda merupakan tanggung jawab Anda, bukan mertua Anda!"
Demikian Info Lampung Blogging. Semoga brmanfaat. Salam Blogging !!

No comments:
Post a Comment
Hindari Komentar yang mengandung Spam, P*rn* dan SARA.